ADA WARTA - Jangan anggap remeh olah raga jalan kaki. Kelihatannya biasa saja, tetapi ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dari jala...
ADA WARTA - Jangan anggap remeh olah raga jalan kaki.
Kelihatannya biasa saja, tetapi ada banyak manfaat yang dapat diperoleh
dari jalan kaki. Terlebih bagi mereka yang mengalami kelebihan berat
badan.
Bagi yang mengalami kelebihan berat badan maupun kegemukan, mereka
biasanya dianjurkan untuk melakukan jalan kaki. Selain mudah dikerjakan,
jalan kaki selama 15 menit, dapat mengekang keinginan mengonsumsi
makanan tinggi kalori maupun kudapan manis pada mereka dengan kelebihan
berat badan.
Studi yang dilakukan oleh Larissa Ledochowski dari University of Innsbruck, Austria dan koleganya, meneliti pengaruh dari jalan kaki di treadmil selama 15 menit terhadap ngidam gula pada 47 orang yang mengalami kelebihan berat badan, dengan rata-rata usia 28 tahun.
Sebelumnya, guna menaikkan keinginan mengudap makanan manis,
partisipan diminta untuk menjauhkan diri dari makanan manis selama tiga
hari di awal studi. Mereka juga diminta untuk puasa, tidak menyantap
apapun kecuali air, dan menghindari segala olahraga selama dua jam
sebelumnya untuk setiap penilaian dari mengidam makanan.
Lalu, di sesi olahraga, beberapa partisipan melakukan pemanasan
selama dua menit secara perlahan di treadmil kemudian jalan selama 15
menit dengan kecepatan yang cukup seperti mengejar bis, tetapi tidak
sampai terengah-engah.
Sebagai perbandingan, partisipan lain diminta untuk duduk diam
selama 15 menit tanpa melakukan apapun. Setelah berolahraga atau duduk,
semua partisipan duduk diam selama lima menit. Kemudian, mereka
melakukan tes secara komputerisasi yang dirancang untuk menaikkan
dorongan fisiologis dan stres.
Setelahnya, mereka diminta untuk membuka sebungkus permen dan
memegangnya tanpa menyantapnya. Sepanjang proses, partisipan ditanyakan
di tujuh waktu berbeda tentang keinginan menyantap makanannya serta
perasaan atas dorongan maupun stres.
Mereka yang berolahraga, secara signifikan dilaporkan mengalami
penurunan keinginan untuk makanan manis di pertengahan dan akhir
percobaan dibandingkan dengan partisipan yang tidak jalan kaki di
treadmil. Bahkan ketika mereka membuka permen dan memegang di tangan,
orang yang berolahraga terlebih dulu memiliki keinginan makan yang lebih
sedikit dibandingkan yang tidak.
Dikatakan Margaret Schneider, periset di University of California,
Irvine, studi ini hanya melihat pengaruh jangka pendek, sehingga kita
sebaiknya tidak mengambil kesimpulan tentang bagaimana olah raga 15
menit akan mempengaruhi perilaku makan sepanjang hari.
Meski demikian, olah raga memang memiliki kemampuan untuk
memperbaiki suasana hati dan mungkin saja bahwa hal ini membuat mengidam
makanan menurun di antara individu yang makan untuk alasan emosional.
Di waktu bersamaan, olah ragaringan juga bisa memicu proses metabolik
yang membuat lebih banyak glukosa darah tersedia ke otak, membuat
keinginan mengonsumsi makanan manis berkurang.
Studi juga memberi pertimbangan bekerja di meja treadmil, yang juga
dikenal sebagai tempat kerja berjalan. "Kiranya, tetap aktif dengan
intensitas rendah sepanjang hari akan membuat keinginan mengudap
berkurang dan meningkatkan mood di antara mereka yang mengalami
kelebihan berat badan,” ujar Schneider.
Riset ini, dikatakan Adrian Meule, psikolog dari Ruhr University Bochum, Jerman, menunjukkan bahwa jalan cepat dapat dipakai sebagai strategi untuk sejenak menurunkan ngidam makanan.
Olah raga dapat memberikan sejumlah stimulasi kognitif yang
menghalangi pikiran untuk makanan yang diidam-idamkan. Dan disiplin agar
secara rutin melakukan jalan kaki, lanjut Meule yang tidak terlibat
dalam penelitian, juga dapat memperbaiki kemampuan dalam membuat pilihan
makanan yang sehat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa secara global,
hampir 2 miliar orang dewasa mengalami kelebihan berat badan maupun
kegemukan. Kondisi ini akan meningkatkan risiko kematian dini, kesulitan
bernapas, penyakit kardiovaskuler, diabetes, hipertensi, fraktur atau
patah tulang, serta masalah kesehatan mental.
Sumber : www.reuters.com
